Samarinda – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Samarinda berkolaborasi dengan Komunitas World Cleanup Day (WCD) Samarinda menggelar aksi edukasi lingkungan dan kesehatan bertajuk "WCD Goes to School" di SD 002 Sambutan, Samarinda, pada Jumat (25/9/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta perwakilan siswa kelas 5 dan kelas 6 yang antusias mengikuti rangkaian materi sejak pagi hari. Hadir mewakili BBPOM di Samarinda, Kepala Bagian Tata Usaha Yanti Wijaya, didampingi oleh Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Haerdy Pratama Wijaya.
Dalam sesi pemaparan, narasumber BBPOM di Samarinda, Haerdy Pratama Wijaya, membekali para siswa dengan pemahaman dasar mengenai bahaya resistensi antimikroba (AMR). Ia memperkenalkan prinsip ABC4T sebagai langkah pencegahan mandiri dalam konsumsi antibiotik. A (Apa): Apa itu resistensi antimikroba (kondisi saat bakteri, virus, jamur, atau parasit kebal terhadap obat), B (Bahaya): Bahaya resistensi antimikroba (penyakit lebih sulit diobati dan berisiko tinggi menyebabkan kematian) dan C (Cara): Cara mikroba menjadi resisten (akibat penggunaan obat yang tidak sesuai aturan atau tanpa resep). Prinsip 4T (Cara Pencegahan) yaitu Tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter yaitu Selalu gunakan obat berdasarkan pemeriksaan dan anjuran tenaga medis, Teruskan pengobatan sesuai resep yaitu Habiskan obat antibiotik yang diberikan dokter meskipun kondisi tubuh sudah terasa membaik, Tidak membuang antibiotik sembarangan dengan cara Musnahkan sisa obat dengan benar agar tidak mencemari lingkungan dan memicu kekebalan mikroba dan Tegur dan laporkan yaitu dengan cara Beritahu atau laporkan jika mengetahui adanya tempat atau pihak yang menjual antibiotik secara bebas tanpa resep.
Selain penggunaan antibiotik yang bijak, Haerdy mengintegrasikan kampanye kepedulian lingkungan melalui gerakan "Ayo Buang Sampah Obat dengan Benar". Kegiatan ditutup langsung oleh Kepala Bagian Tata Usaha BBPOM di Samarinda, Yanti Wijaya. Dalam sambutan penutupnya, ia menekankan peran penting para pelajar sebagai agen perubahan di lingkungan terkecil mereka.
"Materi berharga yang didapat hari ini jangan berhenti di adik-adik saja. Salurkan dan bagikan ilmu ini ke teman-teman sebaya, orang tua, dan keluarga di rumah agar kita bersama-sama terlindung dari bahaya resistensi obat dan pencemaran lingkungan," pesan Yanti.
Kolaborasi antara otoritas pengawas obat dan komunitas lingkungan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan sadar obat dan peduli sanitasi limbah sejak usia dini di Kota Tepian Kota Samarinda